Pilwu dan Cermin Moral Kita
(Pesan untuk Para Calon Kuwu dan Warga Desa)
Tak lama lagi, ratusan desa di Indramayu akan kembali ramai.
Spanduk dan baliho mulai berdiri di tikungan jalan, jondol jondol semakin ramai tanda akan diadakannya
Pemilihan Kuwu Serentak, pesta demokrasi di tingkat paling dekat dengan rakyat akan segera digelar.
Namun di balik euforia itu, ada sesuatu yang lebih penting dari sekadar siapa yang menang.
Pilwu bukan hanya soal memilih pemimpin, tetapi juga soal mengukur sejauh mana moral dan kesadaran kita sebagai masyarakat desa.
Sebab, pemilihan kuwu bukan sekadar ritual politik lima tahunan, ia adalah cermin moral seluruh warga desa.
Cermin Bagi Calon Kuwu
Menjadi kuwu di masa kini adalah ujian kesabaran dan ketulusan.
Jabatan ini tidak lagi sekadar tentang memimpin, tapi tentang menjaga kepercayaan di tengah derasnya arus kepentingan.
Setiap keputusan seorang kuwu dapat mengubah arah hidup banyak orang: membuka harapan atau justru menutup jalan bagi kebaikan.
Namun, di lapangan, realitas sering berkata lain.
Ada calon yang menganggap kemenangan sebagai investasi, bukan amanah.
Ada yang berpikir kekuasaan bisa dibeli, seolah suara rakyat hanyalah komoditas.
Padahal, setiap rupiah yang dikeluarkan untuk membeli suara akan menjadi beban moral yang harus dibayar berkali lipat selama menjabat.
Dan dari situlah awal kehancuran dimulai bukan karena rakyat tak setia, tapi karena niatnya telah bergeser sebelum langkah pertama diambil.
Cermin Bagi Masyarakat
Marilah jujur, bukan hanya calon yang diuji.
Rakyat pun diuji.
Karena di setiap pemilihan, ada tangan-tangan yang tergoda amplop, ada mata yang terpejam oleh janji, ada nurani yang rela ditukar dengan uang seratus ribu.
Kita sering mengeluh pemimpin tak jujur, tapi kadang kita sendiri yang membuka pintu bagi ketidakjujuran itu.
Kita menuntut kuwu yang bersih, tapi kita biarkan suara kita kotor.
Padahal, setiap uang yang diterima bukanlah rezeki, melainkan hutang moral yang akan ditagih oleh masa depan desa kita sendiri.
Calon kuwu rugi karena harus menutup biaya politiknya dengan kebijakan yang tak adil.
Masyarakat rugi karena kehilangan hak untuk menuntut kejujuran.
Dan desa rugi karena kehilangan arah moralnya.
Desa yang Bangkit dari Kesadaran
Desa tidak akan maju hanya karena anggaran besar atau proyek fisik yang banyak.
Desa akan maju ketika moral pemimpinnya dan kesadaran rakyatnya berjalan seiring.
Ketika pemimpin memimpin dengan hati, dan rakyat memilih dengan nurani.
Pilwu seharusnya menjadi momentum bagi kita semua untuk membersihkan niat.
Bagi calon kuwu, membersihkan niat dari ambisi pribadi.
Bagi rakyat, membersihkan pilihan dari iming-iming sesaat.
Karena keikhlasan itulah yang akan menentukan wajah desa lima tahun ke depan.
Cermin Itu Ada di Kita Semua
Pilwu adalah cermin.
Dan cermin tidak pernah berbohong.
Apa yang tampak di dalamnya adalah pantulan dari tindakan kita sendiri, baik calon kuwu maupun rakyatnya.
Kalau yang kita tanam adalah uang, yang tumbuh adalah kepentingan.
Tapi kalau yang kita tanam adalah kejujuran, yang tumbuh adalah kepercayaan.
Pada akhirnya, desa yang kuat bukan yang banyak proyek, tapi yang banyak teladan.
Dan kuwu yang sejati bukan yang disegani karena jabatan, tapi karena ketulusan.
Maka marilah kita jaga Pilwu ini bukan hanya sebagai pesta demokrasi,
melainkan sebagai ibadah sosial, tempat kita menguji diri:
apakah kita masih punya hati yang jujur untuk memilih,
dan tangan yang bersih untuk memimpin.
Oleh: Dede Hidayat