Oleh :Supendi Samian
Ketua STIDKI NU Indramayu Fenomena banjir yang kian sering terjadi pada masa kini bukan hanya persoalan alam semata, tetapi lebih dalam merupakan cermin dari tertutupnya akal manusia dalam memahami tanda-tanda kasih sayang Allah. Sebelum manusia diciptakan, Allah telah lebih dahulu menciptakan alam secara sempurna—gunung sebagai pasak bumi, laut sebagai penyeimbang kehidupan, pepohonan sebagai penjaga tanah, serta seluruh ekosistem sebagai sarana kebahagiaan dan keberlangsungan hidup manusia. Penciptaan alam yang sedemikian teliti menunjukkan bahwa rahmat Allah mendahului keberadaan manusia, dan bahwa manusia seharusnya hidup dalam harmoni dengan alam, bukan merusaknya.Namun dalam kenyataannya, akal manusia sering tertutup oleh keserakahan, ketidaktahuan, dan kelalaian dalam mengelola anugerah tersebut.
Gunung digunduli, hutan dibabat habis, aliran sungai ditutup dan dipersempit, serta lahan resapan berubah menjadi bangunan. Akibatnya, sistem keseimbangan alam yang telah Allah ciptakan dengan hikmah menjadi terganggu, sehingga banjir, tanah longsor, dan kerusakan lingkungan menjadi konsekuensi yang tak terelakkan.Al-Qur’an, hadis, serta pandangan para ahli lingkungan modern sama-sama menyatakan bahwa kerusakan di muka bumi bukanlah kehendak Allah, tetapi akibat langsung dari ulah tangan manusia. Ketika manusia tidak mampu membaca cinta Allah dalam penciptaan alam, maka ia pun gagal menjaga amanah kekhalifahan yang diberikan kepadanya. Oleh karena itu, memahami banjir melalui perspektif keimanan dan ilmu pengetahuan menjadi sangat penting agar manusia dapat kembali menyadari tanggung jawabnya untuk menjaga bumi sebagai wujud syukur dan ketaatan kepada Allah.Banjir merupakan fenomena alam, tetapi dampaknya sangat bergantung pada cara manusia mengelola alam.
Para ahli lingkungan menyebut bahwa 80–90% penyebab banjir modern berasal dari aktivitas manusia, bukan murni dari gejala alam.Dalam perspektif keislaman, manusia sering lupa bahwa:”Allah menciptakan alam sebelum menciptakan manusia sebagai bentuk kasih sayang dan sebagai sarana kebahagiaan hidup.”Ketika akal tertutup oleh keserakahan, kelalaian, atau ketidakpedulian pada aturan alam yang sudah Allah tetapkan, maka kerusakan muncul—termasuk banjir,kasih Sayang Allah dalam Penciptaan Alam, Alam diciptakan untuk kemaslahatan manusiaAllah berfirman:1.QS. Al-Baqarah 29″Dialah Allah yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kamu.
”Ini menunjukkan rahmat awal Allah kepada manusia bahkan sebelum manusia lahir.QS. Ibrahim 32–33″ Allah menundukkan sungai, matahari, bulan, lautan dan tumbuhan untuk kepentingan manusia”3.QS. Al-A’raf 56″Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”Kerusakan (fasād) yang dimaksud banyak ditafsirkan ulama sebagai rusaknya ekosistem, air, tanah, dan gunung akibat perbuatan manusia.Hadis Rasulullah SAW bersabda:”Dunia ini hijau dan indah, dan Allah menjadikan kalian sebagai pemakmur di dalamnya.”(HR. Muslim)Makmur di sini bukan merusak, tetapi menjaga keseimbangan sebagai bentuk syukur, Gunung, Laut, dan Pohon sebagai Sistem Ketahanan Alam, Gunung sebagai pakubumi
Allah berfirman:QS. An-Naba’ 6–7″Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?”Pakar geologi juga mengatakan bahwa gunung menjaga stabilitas kerak bumi dan mengatur aliran air,Laut sebagai penyimpan air dan penyeimbang cuacaQS. Ar-Rahman 19–20″Allah mengatur pertemuan dua laut dengan batasnya “Ahli oseanografi menjelaskan bahwa laut adalah, stabilisator suhu bumi, penyimpan air terbesar,pengatur siklus hujan.
Pohon dan hutan mencegah longsor & banjir, Ahli hidrologi menyebut pohon, menahan air hujan melalui tajuk daun,memperkuat tanah dengan akar, mengurangi limpasan permukaan (runoff).QS. Qaf 7–11″Allah menjelaskan tumbuhan dan pohon dibuat untuk memakmurkan bumi, menyediakan air, dan menjaga keseimbangan”Ketika Akal Manusia Tertutup, Lupa bahwa Alam Adalah AmanahBanjir bukan sekadar hujan besar, tetapi akumulasi dari Pembabatan hutan, Ulama klasik seperti Imam Al-Mawardi menjelaskan bahwa kerusakan lingkungan adalah bentuk khianat terhadap amanah Allah.Ahli tata ruang menegaskan bahwa 80% banjir perkotaan terjadi karena, hilangnya resapan,sempadan sungai dipakai untuk bangunan, sungai disempitkan, Serakah terhadap bumiQS. Ar-Rum 41″Telah tampak kerusakan di darat dan laut akibat ulah tangan manusia.”Tafsir Ibn Katsir ” kerusakan termasuk musnahnya pepohonan, rusaknya tanah, dan banjir.Allah Mencintai Hamba-Nya: Memberi Peringatan Melalui Fenomena Alam, Bencana sering menjadi tanda peringatan, bukan azab langsung.Ibnu Qayyim berkata:
“Musibah bukan hukuman bagi orang beriman, tetapi panggilan untuk kembali kepada Allah dan memperbaiki diri.”Banjir sering menjadikoreksi pola hidup, tanda kerusakan tata kelola lingkungan, momentum introspeksi sosial, Hikmah Banjir dalam Perspektif Ulama, Mengingatkan amanah kekhalifahanQS. Al-Baqarah: 30 “manusia sebagai khalifah, bukan perusak, Menghilangkan kesombongan manusia, Ketika teknologi modern gagal menahan alam, manusia sadar. “bahwa kehendak Allah lebih besar dari kekuatan manusia, Mengajak kembali menjaga alam Rasulullah SAW bersabda“Barang siapa menanam pohon, maka baginya pahala yang terus mengalir.”(HR. Ahmad)Ini menunjukkan bahwa menjaga alam adalah ibadah.Allah menciptakan alam sebelum manusia sebagai wujud cinta dan rahmat, Gunung sebagai pasak bumi, laut sebagai penyeimbang, dan pohon sebagai penjaga tanah—semuanya adalah sistem ketahanan alam, Banjir terjadi bukan karena alamnya yang salah, tetapi karena akal manusia tertutup oleh kerakusan, ketidakpedulian, dan kesalahan pengelolaan, Al-Qur’an, hadis, dan pendapat ahli lingkungan sejalan bahwa kerusakan ekologis adalah akibat ulah manusia
.Tugas manusia adalah memperbaiki, menjaga, dan memakmurkan alam sebagai amanah Allah.Banjir bukan sekadar peristiwa alam yang berdiri sendiri, tetapi merupakan cermin dari bagaimana manusia memperlakukan bumi yang telah Allah siapkan sebagai karunia sebelum manusia diciptakan. Gunung, laut, pepohonan, dan seluruh ekosistem hadir sebagai bentuk cinta Allah yang mendahului keberadaan manusia. Namun ketika akal manusia tertutup oleh keserakahan, kelalaian, dan ketidakmampuan membaca hikmah penciptaan, maka ia justru merusak keseimbangan yang telah Allah tetapkan.
Al-Qur’an, hadis, dan ilmu pengetahuan modern sama-sama menegaskan bahwa kerusakan alam dan bencana seperti banjir merupakan konsekuensi dari perbuatan manusia sendiri, bukan semata-mata takdir tanpa sebab.Karena itu, menjaga alam adalah bagian dari ketaatan, sedangkan merusaknya adalah bentuk pengingkaran terhadap amanah sebagai khalifah di bumi. Sudah saatnya manusia kembali membuka akal, membaca tanda-tanda cinta Allah dalam penciptaan alam, dan mengelola bumi dengan ilmu, etika, serta tanggung jawab. Dalam kaidah fiqih disebutkan, “Mā lā yatimmu al-wājibu illā bihī fa huwa wājib.”Segala sesuatu yang menjadi syarat terlaksananya kewajiban, hukumnya juga wajib.Menjaga lingkungan adalah syarat terwujudnya kehidupan yang maslahat; maka menjaganya adalah kewajiban.
Semoga kita termasuk hamba yang mampu mensyukuri nikmat Allah dengan menjaga apa yang telah dititipkan-Nya, sehingga alam kembali menjadi sumber kebaikan, ketenteraman, dan kemakmuran bagi seluruh manusia.