Menyusuri Penglipuran: Warisan Budaya Bali yang Masih Hidup OLEH Tuminih, M. Pd

Di tengah pesatnya perkembangan pariwisata modern di Pulau Dewata, terdapat sebuah desa yang berdiri tenang namun memikat, seolah menjaga denyut kebudayaan Bali agar tetap hidup: Desa Penglipuran. Terletak di Kabupaten Bangli, desa adat ini telah lama menjadi simbol harmoninya manusia, alam, dan tradisi. Keasrian dan kearifan lokalnya tidak hanya mengundang decak kagum wisatawan, tetapi juga menjadi bukti bahwa budaya dapat terus hidup jika dijaga dengan kesadaran dan cinta oleh masyarakatnya.

Akar Sejarah PenglipuranNama Penglipuran sering dikaitkan dengan kata Bali “Pengeling Pura” yang berarti “mengingat pura”. Filosofi ini mencerminkan semangat masyarakatnya untuk selalu mengingat dan menjaga tempat suci, tradisi leluhur, serta nilai-nilai kehidupan yang diwariskan turun-temurun. Dalam sejarahnya, masyarakat Penglipuran konon berasal dari daerah Kintamani, kemudian menetap di wilayah yang kini menjadi desa ini sambil membawa adat istiadat kuno yang tetap dipertahankan hingga hari ini.

Keberhasilan Penglipuran menjaga struktur desa tradisionalnya membuat kawasan ini sering dianggap sebagai salah satu desa adat terbaik di Bali. Bahkan, Penglipuran pernah masuk daftar desain desa terbersih di dunia, sejajar dengan desa-desa ramah lingkungan lainnya di berbagai negara.Tata Ruang yang Sarat MaknaSaat memasuki Penglipuran, pengunjung akan langsung merasakan suasana yang berbeda—hening, tertib, dan teratur. Semua rumah di desa ini memiliki bentuk dan tata letak yang seragam.

Tidak ada pagar tinggi, tidak ada tembok megah yang membatasi satu rumah dari rumah lainnya. Sebaliknya, setiap rumah dihiasi angkul-angkul, pintu gerbang tradisional Bali yang menjadi simbol kesederhanaan, keterbukaan, dan kesetaraan.Tata ruang Penglipuran mengikuti konsep Tri Mandala, pembagian ruang berdasarkan tingkat kesucian.

1. Utama Mandala (paling suci): tempat pura desa dan aktivitas keagamaan.

2. Madya Mandala: area permukiman penduduk

.3. Nista Mandala: area perladangan, ruang publik, hingga kuburan.Konsep ini menggambarkan harmonisasi hubungan antara manusia dengan Tuhan (parahyangan), sesama manusia (pawongan), dan alam sekitar (palemahan). Inilah bentuk nyata ajaran Tri Hita Karana, prinsip hidup yang menjadi dasar budaya Bali.

Arsitektur Tradisional yang Masih LestariSalah satu hal yang membuat Penglipuran istimewa adalah arsitektur rumah adatnya yang tidak banyak terpengaruh modernisasi. Rumah-rumah dibuat dari bahan alami seperti bambu, tanah liat, dan kayu. Atapnya sering menggunakan ilalang atau bambu, menciptakan kesan hangat dan menyatu dengan alam.Dinding bambu yang dianyam memberikan kesejukan alami, sementara tata letak ruang rumah mengikuti standar adat Bali. Banyak masyarakat di desa lain telah mengganti rumah tradisional dengan bangunan modern, tetapi Penglipuran masih teguh mempertahankan identitasnya.

Langkah ini bukan hanya menjaga estetika, tetapi juga menjaga nilai budaya yang tersemat dalam setiap sisi rumah.Desa yang Bebas Kendaraan BermotorKeunikan lain yang membuat banyak wisatawan kagum adalah kebijakan bebas kendaraan bermotor di area desa inti.

Kendaraan hanya boleh diparkir di tempat yang sudah disediakan di pintu masuk desa. Hal ini membuat lingkungan Penglipuran tetap sunyi dan bebas polusi.Dengan berjalan kaki menyusuri jalan utama desa, pengunjung dapat menikmati suasana damai sambil melihat keseharian warga. Tidak ada suara klakson, tidak ada hiruk-pikuk lalu lintas—hanya suara langkah kaki, alam, dan angin yang berhembus lembut.Kearifan Lokal dalam Melestarikan LingkunganKebersihan Penglipuran bukan kebetulan, melainkan hasil dari budaya dan kesadaran warganya.

Sejak dulu, masyarakat menerapkan aturan adat yang melarang tindakan merusak alam, membuang sampah sembarangan, hingga menebang pohon tanpa izin adat.Sistem pengelolaan sampah di desa ini juga terstruktur. Masyarakat membiasakan pemilahan dan pengolahan sampah organik maupun anorganik. Bahkan, Penglipuran juga dikenal sebagai desa yang menanamkan nilai zero waste dalam kehidupan sehari-hari.Kawasan hutan bambu seluas belasan hektare yang mengelilingi desa pun menjadi bukti nyata kepedulian masyarakat terhadap kelestarian alam.

Hutan ini tidak hanya berfungsi ekologis, tetapi juga menjadi sumber material bangunan dan penopang budaya kerajinan mereka.Tradisi dan Upacara Adat yang Tetap DihidupkanPenglipuran menjunjung tinggi berbagai upacara adat yang menjadi bagian integral kehidupan. Upacara keagamaan, hari raya, hingga tradisi khusus desa tetap dilaksanakan dengan penuh penghormatan.

Beberapa kegiatan adat yang dikenal antara lain:Upacara Galungan dan Kuningan yang dirayakan dengan kesakralan khas desa adat.Ngusaba, ritual syukur yang melibatkan seluruh warga desa.Tradisi gotong royong, baik dalam urusan adat maupun sosial.Keterlibatan seluruh generasi, mulai dari orang tua hingga anak-anak, menjadikan tradisi ini tetap relevan dan terus diwariskan.

Pariwisata Budaya yang Berbasis MasyarakatMeski terkenal sebagai desa wisata, Penglipuran berhasil mengelola pariwisata berbasis masyarakat tanpa mengorbankan nilai adat. Pendapatan dari wisata dikelola secara transparan oleh desa untuk pembangunan fasilitas umum, pelestarian budaya, dan kesejahteraan warganya.Berbeda dari desa wisata komersial, Penglipuran lebih menonjolkan pengalaman budaya:Wisatawan dapat melihat proses pembuatan kerajinan bambu.Mencicipi kuliner tradisional khas Bangli.

Mengikuti kegiatan budaya tertentu saat hari-hari besar.

Menginap di homestay yang tetap mempertahankan bentuk adat.Bagi banyak pengunjung, perjalanan ke Penglipuran bukan sekadar liburan, tetapi kesempatan untuk memahami nilai kehidupan yang lebih sederhana dan penuh makna.Harmoni yang Terpelihara di Tengah ModernisasiKeberhasilan Penglipuran mempertahankan identitas tradisionalnya di tengah arus modernisasi adalah prestasi yang patut diapresiasi. Di saat banyak wilayah berkembang dengan cepat, desa ini tetap teguh pada akar budaya, tanpa menutup diri dari perkembangan teknologi yang bermanfaat.

Masyarakat hidup dalam harmoni dengan alam, mempraktikkan gotong royong, dan memelihara hubungan sosial yang kuat. Inilah yang membuat Penglipuran lebih dari sekadar destinasi wisata—ia adalah pelajaran hidup.Kesimpulan“Menyusuri Penglipuran: Warisan Budaya Bali yang Masih Hidup” bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan batin menuju kebijaksanaan yang diwariskan para leluhur. Desa ini mengajarkan bahwa budaya tidak hanya untuk dikenang, tetapi dijalankan dengan kesungguhan setiap hari.Melalui tata ruang yang sarat makna, arsitektur tradisional, lingkungan yang bersih, serta kearifan lokal yang kuat, Penglipuran menjadi simbol nyata keharmonisan manusia dan alam yang terus bertahan di tengah zaman yang terus berubah.

Desa Penglipuran bukan hanya tempat yang indah untuk dikunjungi—ia adalah inspirasi tentang bagaimana tradisi dapat tetap hidup, modernisasi tetap berjalan, dan alam tetap terjaga. Sebuah warisan budaya yang tidak hanya “masih hidup”, tetapi menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan dalam diri setiap pengunjung yang menapakkan kaki di dalamnya.

Ayo bergabung menjadi mahasiswa STIDKI NU Indramayu!

Populer