Relevansi Kitab Ta’lim Muta’allim bagi Generasi Z(Kompas etika di tengah arus digital oleh : Mahfudz Rozaq,M.Sos)


Pendahuluan
Generasi Z (Gen Z) tumbuh di tengah hiruk pikuk revolusi digital, di mana informasi mengalir deras, tren berubah secepat kilat, dan batas antara dunia maya dan nyata semakin kabur. Dalam lingkungan yang serba cepat dan instan ini, mereka membutuhkan pondasi kokoh untuk memastikan proses belajar (pendidikan) mereka tidak hanya menghasilkan kecerdasan, tetapi juga karakter dan kebermanfaatan.
Di sinilah Kitab Ta’lim Muta’allim Thariqah Ta’allum karya Syekh Az-Zarnuji (w. 1200 M) menemukan relevansi puncaknya. Meskipun berusia ratusan tahun, panduan etika belajar klasik ini bertindak sebagai “Kompas Moral” yang sangat dibutuhkan oleh Gen Z.


B. Pembahasan

  1. Menjernihkan Niat: Pelajaran Melawan Instan Gratification
    Tantangan terbesar Gen Z adalah menghadapi budaya instan gratification dan fokus pada validasi eksternal (nilai, gelar, followers). Kitab Ta’lim Muta’allim secara tegas membahas pentingnya Niat (an-Niyyah) di bab pertama.
    “Wajib bagi penuntut ilmu berniat dalam menuntut ilmu adalah mencari rida Allah, kebahagiaan akhirat, menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri dan dari orang lain, dan menghidupkan agama.”
    Relevansi bagi Gen Z: Ajaran ini menggeser fokus belajar dari sekadar mengejar skor A+ atau pekerjaan bergengsi menjadi pencarian makna dan tujuan hidup. Gen Z diajak untuk menggunakan ilmu sebagai alat untuk problem-solving dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bukan sekadar menumpuk pencapaian pribadi.
  2. Adab terhadap Guru (Ta’dzim): Filter di Era Informasi Terbuka
    Akses informasi yang tak terbatas melalui search engine dan AI seringkali menciptakan ilusi bahwa guru tidak lagi relevan. Kitab ini mendedikasikan satu bab untuk membahas Adab terhadap Guru (Ta’dzim) dan Syekh. Az-Zarnuji mengingatkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang disertai dengan penghormatan.
    Relevansi bagi Gen Z:
    Menghargai Otentisitas: Guru adalah sumber ilmu yang memiliki sanad (rantai keilmuan) dan pengalaman hidup, sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh algoritma AI. Menghormati guru berarti menghargai proses autentikasi dan kedalaman ilmu.
    Etika Komunikasi Digital: Prinsip ta’dzim dapat diterjemahkan ke dalam etika komunikasi digital, seperti menggunakan bahasa yang sopan dan menghindari ghosting saat berinteraksi dengan dosen atau mentor secara online.
  3. Selektivitas Konten dan Teman: Membendung Banjir Informasi
    Dalam bab Memilih Ilmu, Guru, dan Teman, Kitab Ta’lim Muta’allim menekankan pentingnya selektivitas. Penuntut ilmu dianjurkan memilih ilmu yang paling bermanfaat (seperti fardhu ‘ain) dan memilih teman yang baik (salih) yang dapat memberikan dukungan moral dan motivasi.
    Relevansi bagi Gen Z:
    Literasi Digital dan Hoaks: Di era disinformasi, ajaran ini menjadi filter moral. Gen Z diajak untuk selektif terhadap konten, menjauhi ilmu yang tidak bermanfaat (atau bahkan merusak) seperti hoaks, ujaran kebencian, dan misinformasi.
    Lingkaran Pergaulan Sehat: Prinsip memilih teman dapat diperluas ke lingkungan online. Gen Z perlu bijak memilih circle pergaulan di media sosial yang positif dan mendorong produktivitas.
  4. Ketekunan dan Manajemen Waktu: Melawan Godaan FOMO
    Salah satu persyaratan utama dalam Kitab ini adalah Waktu yang Lama (Thuluzzaman) dan Kesungguhan (Mujahadah). Az-Zarnuji menyiratkan bahwa penguasaan ilmu adalah proses maraton, bukan lari sprint.
    Relevansi bagi Gen Z:
    Fokus di Tengah Distraksi: Gen Z sering bergumul dengan distraksi notifikasi dan FOMO (Fear of Missing Out). Ajaran ini menjadi penyeimbang, menegaskan bahwa ilmu butuh fokus, dedikasi, dan alokasi waktu yang disiplin.
    Resiliensi dan Growth Mindset: Prinsip mujāhadah (kesungguhan) menanamkan resiliensi. Kegagalan atau kesulitan belajar bukan akhir, melainkan bagian dari proses panjang yang membutuhkan kesabaran (sabr).
  5. Aktualisasi Sikap Wara’ (Kehati-hatian)
    Kitab ini mengajarkan pentingnya sikap Wara’ (kehati-hatian), yaitu menjauhi hal-hal yang samar (syubhat) atau dikhawatirkan mengganggu keberkahan ilmu, termasuk menjauhi ghibah (gosip) dan tidur berlebihan.
    Relevansi bagi Gen Z:
    Kebijaksanaan Media Sosial: Prinsip wara’ diaktualisasikan dalam perilaku digital: berhati-hati dalam berkomentar, menjaga privasi, dan menghindari menyebarkan aib orang lain (ghibah digital).
    Kesehatan Mental dan Fisik: Menghindari tidur berlebihan atau penggunaan gadget yang ekstrem membantu Gen Z mengelola waktu istirahat dan mencegah burnout.
    Kesimpulan
    Kitab Ta’lim Muta’allim bukanlah sekadar buku panduan akademik, melainkan sebuah cetak biru pembentukan karakter. Ia mengajarkan bahwa intelektualitas harus dibingkai dengan moralitas. Bagi Gen Z yang akan memimpin di masa depan, relevansi kitab ini terletak pada kemampuannya memberikan landasan etika yang stabil di tengah gelombang perubahan teknologi. Ilmu yang didapat dengan adab adalah ilmu yang berkah, abadi, dan memberikan manfaat luas bagi alam semesta.
    Daftar Pustaka
    Az-Zarnuji, Syekh Burhanuddin Al-Islam. (Terjemah) Ta’lim Muta’allim Thariqah Ta’allum. Kitab asli yang membahas etika dan tata cara penuntut ilmu.
    Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kemenag RI. (2020). Literasi Digital dan Pembentukan Karakter Generasi Z. Jakarta: Kementerian Agama.
    Hanafi, Muchlis. (2018). Akhlak Pelajar Muslim: Aktualisasi Nilai-Nilai Ta’lim Muta’allim di Era Revolusi Industri 4.0. Jurnal Pendidikan Islam. (Untuk konteks aktualisasi kontemporer).

Ayo bergabung menjadi mahasiswa STIDKI NU Indramayu!

Populer