Dakwah Konvensional Tetap Jadi Penyangga Utama Kehidupan Keagamaan di IndramayuDitulis oleh: Moh. YusupIndramayu – Di tengah derasnya perkembangan teknologi informasi dan maraknya tren dakwah digital di berbagai platform media sosial, metode dakwah konvensional di Kabupaten Indramayu justru menunjukkan ketahanan dan relevansi yang kuat. Bagi sebagian besar masyarakat, terutama di wilayah pedesaan, dakwah langsung melalui tatap muka tetap menjadi fondasi utama kehidupan keagamaan.Kegiatan seperti pengajian rutin malam Jumat, majelis taklim ibu-ibu, pengajian kitab kuning di mushola, manaqiban, tahlilan, hingga kegiatan sosial berbasis tradisi masih menjadi magnet yang mampu menghadirkan solidaritas dan rasa kebersamaan. Dakwah jenis ini tidak hanya menyampaikan pesan agama, tetapi juga merawat hubungan emosional antara mubaligh dan jamaah.Seorang tokoh agama di Kecamatan Jatibarang mengungkapkan bahwa kelebihan dakwah konvensional terletak pada kedekatan dan kehangatan yang sulit digantikan dakwah digital. “Warga di sini ingin bertemu langsung, sowan, mendengar wejangan dengan suasana guyub. Itulah yang membuat dakwah lebih meresap,” ujarnya.Mengakar pada Kearifan LokalIndramayu memiliki tradisi keagamaan yang khas, dipengaruhi oleh kultur pesantren dan budaya Islam pesisir. Tradisi seperti marhabanan, berjanjen, mapag sri, khataman, hingga syukuran panen selalu melibatkan unsur dakwah secara langsung. Hal ini menjadikan dakwah konvensional bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat.Di beberapa desa, masih banyak ustaz dan kiai muda yang meneruskan tradisi dakwah keliling kampung. Mereka masuk dari satu rumah ke rumah lain, terutama saat ada warga yang sedang memiliki hajat. Interaksi seperti ini melahirkan keakraban yang tidak bisa didapat dari dakwah daring.Tantangan di Era DigitalMeski tetap kuat, dakwah konvensional juga menghadapi tantangan. Generasi muda kini lebih banyak mendapatkan informasi keagamaan dari media sosial, video pendek, hingga siaran langsung para dai populer. Namun para penyuluh agama di Indramayu melihat hal ini bukan sebagai ancaman, melainkan peluang untuk menggabungkan dua pendekatan.Banyak pengasuh majelis taklim mulai memadukan dakwah konvensional dengan dokumentasi digital sederhana, seperti siaran live pengajian atau unggahan ringkas di platform media sosial lokal.Dakwah Konvensional Masih DibutuhkanHingga hari ini, dakwah konvensional tetap menjadi benteng moral, sosial, dan spiritual masyarakat Indramayu. Ia tidak sekadar menyampaikan ilmu, tetapi memperkuat solidaritas, membangun kedekatan, dan merawat harmoni yang selama ini menjadi ciri khas kehidupan warga.Di tengah derasnya modernisasi, masyarakat Indramayu seolah memberi pesan bahwa teknologi boleh berubah, tetapi kebijaksanaan yang disampaikan secara langsung dari hati ke hati tetap memiliki tempat istimewa di tengah mereka.
DAKWAH KONVENSIONAL TETAP MENJADI PENYANGGA UTAMA KEHIDUPAN KE AGAMAAN DI INDRAMAYU
- STIDKI NU Indramayu