Humanisasi Pendidikan Pesantren Dalam Konteks Peran Kiai Memanusiakan ManusiaDi tulis oleh : Tarso

Di tengah gemuruh badai modernitas yang kerap mereduksi pada nilai-nilai kemanusiaan, pesantren hadir sebagai oase yang menenangkan, di dalamnya, terdapat seorang kiai yang tidak sekadar mengajar, tetapi membangun peradaban dan juga etika kepribadian, visinya melampaui pencetakan santri pintar secara akademis belaka, tujuannya adalah untuk menjadikan manusia yang utuh, berakhlak mulia, dan peka terhadap sesama, proses humanisasi inilah yang menjadi denyut nadi pendidikan pesantren, figur kiai menjadi poros utama dalam transformasi nilai-nilai luhur tersebut. setiap langkah dan ucapannya adalah kurikulum hidup yang menginspirasi, dalam dekapan pesantren, setiap santri belajar arti menjadi manusia seutuhnya.Kiai memimpin dengan keteladanan dan juga kerendahan akhlak, bukan dengan intimidasi atau kekuasaan belaka, kehadirannya di tengah santri bagaikan matahari yang memberi kehangatan dan cahaya, beliau mengenal setiap santri bukan hanya sebagai angka, tetapi sebagai pribadi unik dengan cerita dan latarnya masing-masing.

Sebuah senyum, tepukan di pundak, atau pertanyaan sederhana tentang keluarga di kampung halaman memiliki kekuatan dahsyat, gestur-gestur kecil ini mengikis jarak dan menumbuhkan rasa dihargai, di sinilah benih-benih kemanusiaan mulai disemai, dalam interaksi yang tulus dan penuh perhatian. Santri merasa dilihat, didengar, dan diakui eksistensinya.Pendidikan humanis di pesantren tidak berhenti pada hubungan personal, tetapi merasuk dalam kurikulum kehidupan sehari-hari. pembelajaran kitab kuning tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menyelami samudera hikmah dan nilai di dalamnya, setiap diskusi di serambi masjid atau di bawah teduhnya pohon adalah ruang dialog yang setara. kiai mendorong santri untuk bertanya, mengkritisi, dan mengungkapkan perasaan mereka, suasana kebersamaan dalam mengerjakan tugas harian, dari membersihkan kamar hingga mengolah kebun, mengajarkan arti gotong royong, dalam kesederhanaan hidup, mereka menemukan kekayaan relasi dan empati.

Nilai-nilai kesederhanaan dan keteladanan yang dihidangkan oleh kiai menjadi fondasi kokoh bagi pembangunan karakter santri, beliau tidak hanya menyuruh santri untuk jujur, tetapi kejujuran itu terpancar dari setiap tindak-tanduknya, kiai hidup apa adanya, tanpa kemewahan yang mencolok, menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak terletak pada materi.

Kesederhanaan ini menjadi pelajaran nyata tentang integritas dan kemandirian, santri belajar bahwa menjadi manusia mulia tidak ditentukan oleh gelar atau harta, tetapi oleh kemurnian hati dan konsistensi dalam berperilaku, keteladanan ini mengukir memori yang jauh lebih dalam daripada ribuan kata-kata indah.Lebih dari sekadar pemimpin spiritual, kiai adalah bapak dan keluarga bagi seluruh santri. beliau seorang kiai hadir dalam suka dan duka, merayakan prestasi kecil sekaligus menghibur saat kegagalan datang. ketika seorang santri sakit, kiailah yang seringkali menjenguk dan mendoakan dengan khusyuk, ketika ada masalah keluarga yang menghampiri, pelukan dan nasihatnya menjadi obat penenang.

ruang kerjanya selalu terbuka untuk mendengarkan keluh kesah dan kegalauan hati para santri. dalam naungannya, pesantren bukan lagi sekadar institusi pendidikan, melainkan rumah kedua yang penuh kehangatan. setiap santri merasakan ikatan emosional yang dalam, layaknya sebuah keluarga besar.Proses memanusiakan manusia ini mencapai puncaknya ketika kiai memberdayakan potensi unik setiap santri. Mata batin beliau yang jeli mampu melihat bakat terpendam kepada para santri, apakah itu dalam bidang sastra, olah raga, seni, atau kepemimpinan, santri yang pemalu didorong untuk percaya diri, yang berbakat diorganisir untuk mengembangkan sayapnya. kiai tidak ingin mencetak santri yang seragam, tetapi ingin melahirkan pribadi-pribadi yang merdeka dan mengenali jati dirinya.

pujian yang tulus diberikan untuk setiap kemajuan, membangun kepercayaan diri yang sehat, pengakuan terhadap potensi individu adalah bentuk tertinggi dari penghargaan atas kemanusiaan.Pendekatan kiai yang humanis juga terlihat dalam menyikapi kesalahan dan kekurangan santri, setiap pelanggaran tidak dihadapi dengan hukuman yang mempermalukan, tetapi dengan pendekatan edukatif yang memulihkan.

kiai memanggil santri yang bersalah, berdialog dari hati ke hati untuk menemukan akar masalahnya. beliau percaya bahwa setiap kesalahan adalah ladang belajar, bukan aib yang harus ditutupi. maaf dan kesempatan untuk memperbaiki diri selalu diberikan, karena beliau memahami bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa. restoratif justice ala pesantren ini mengajarkan santri tentang tanggung jawab, empati, dan cara meminta maaf yang tulus.Pendidikan humanis di pesantren membekali santri dengan kecerdasan emosional dan spiritual yang tinggi. mereka tidak hanya diajar untuk beribadah dengan khusyuk, tetapi juga untuk merasakan kedekatan dengan Sang Pencipta dan sesama makhluk, kepekaan terhadap lingkungan sekitar dan rasa syukur atas hal-hal kecil ditanamkan setiap saat.

kecerdasan ini menjadikan mereka pribadi yang resilien dan mampu menghadapi kompleksitas kehidupan. mereka belajar untuk mengelola amarah, mengungkapkan rasa terima kasih, dan menjaga lisan. bekal inilah yang membentuk mereka menjadi manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berhati lembut.Dampak dari humanisasi yang dipelopori kiai ini melampaui tembok pesantren. Santri-santri yang lulus bukan hanya membawa segudang ilmu, tetapi juga membawa hati yang terlatih untuk mengasihi, mereka menjadi agen-agen perdamaian di masyarakat, menyebarkan virus kebaikan dan empati, dalam setiap profesi yang mereka geluti, nilai-nilai keteladanan dan kepedulian yang mereka terima dari Kiai terus hidup. Mereka menjadi bukti nyata bahwa pendidikan yang memanusiakan mampu melahirkan generasi yang kuat secara intelektual dan matang secara emosional.

warisan terbesar seorang kiai adalah manusia-manusia utuh yang berkontribusi bagi peradaban dan juga meningkatkan akhlak yang baik.Pada akhirnya, peran kiai dalam memanusiakan manusia adalah jiwa dari pendidikan pesantren, di tangan seorang kiai, pendidikan itu tidak hanya untuk sekadar dalam transfer informasi keilmuan saja, melainkan sebuah seni membangkitkan potensi kemanusiaan yang paling luhur. Setiap santri diajak untuk menyadari akan hakekat dirinya, menghargai orang lain, dan berkontribusi bagi dunia dengan penuh kasih. Pada pusaran zaman yang semakin menekati individualistik, pesantren dengan figur kiai-nya tetap berdiri kokoh sebagai mercusuar dalm konteks perbaikan akhlak yang luhur. Mungkin dari sanalah lahir manusia-manusia yang tidak hanya siap menghadapi dunia global yang penuh dengan teknologi moderen, tetapi juga siap memelihara kemanusiaan itu sendiri, inilah esensi sejati dari pendidikan yang memanusiakan ala pondok pesantren sebagai kiblat kemanusiaan.

Ayo bergabung menjadi mahasiswa STIDKI NU Indramayu!

Populer