Islah dan Ketidaknyamanan Kaum Berkepentingan dalam Dinamika Nahdlatul Ulama

Oleh Supendi Samian Ketua STIDKI NU Indramayu Nahdlatul Ulama bukan sekadar organisasi kemasyarakatan, melainkan jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah yang lahir dari rahim pesantren, dirawat oleh adab, dan dibimbing oleh dawuh para muassis serta poro kyai sepuh. Sejak awal berdirinya, NU dibangun bukan di atas ambisi kekuasaan, tetapi di atas keikhlasan, pengabdian, dan tanggung jawab moral untuk menjaga agama, bangsa, dan umat. Karena itu, setiap dinamika yang terjadi di dalam NU sejatinya harus selalu dikembalikan kepada ruh pesantren dan nilai-nilai adab yang menjadi fondasi jam’iyyah.Dalam perjalanan waktu, dinamika organisasi adalah keniscayaan.

Perbedaan pandangan, pendekatan, dan kebijakan merupakan bagian dari proses pendewasaan jam’iyyah. Namun, persoalan muncul ketika dinamika tersebut tidak lagi dikelola dalam bingkai musyawarah, kebijaksanaan, dan kepatuhan terhadap dawuh kyai sepuh, melainkan bergeser menjadi tarik-menarik kepentingan yang dibungkus dengan simbol struktural dan legitimasi formal.

Pada titik inilah, seruan Islah seringkali hadir sebagai jalan etik dan spiritual untuk mengembalikan NU kepada khittah dan marwahnya.Islah dalam tradisi NU bukanlah bentuk perlawanan terhadap struktur, apalagi upaya pembangkangan terhadap aturan organisasi. Sebaliknya, Islah merupakan ikhtiar luhur untuk meluruskan arah, menjaga keutuhan jam’iyyah, serta mencegah kerusakan yang lebih luas pada tatanan sosial dan kulturasi NU. Akan tetapi, realitas menunjukkan bahwa Islah justru kerap menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian pihak yang memiliki kepentingan tertentu, terutama mereka yang menjadikan baju PBNU dan idealisme AD/ART sebagai tameng untuk mempertahankan posisi dan pengaruh, meskipun dalam praktiknya berpotensi menjauh dari nilai-nilai pesantren dan dawuh kyai sepuh.

Fenomena tersebut bukan persoalan sederhana. Ketika aturan formal ditempatkan di atas adab, dan legalitas prosedural dikedepankan tanpa kebijaksanaan, maka yang terancam bukan hanya harmoni internal organisasi, tetapi juga kepercayaan warga NU serta keberlanjutan kultur pesantren yang selama ini menjadi jiwa jam’iyyah. NU berisiko direduksi menjadi organisasi administratif semata, kehilangan ruh spiritual, dan tercerabut dari akar sejarahnya.Makna Islah dalam perspektif Nahdlatul Ulama, menjelaskan mengapa Islah seringkali menimbulkan resistensi dari pihak-pihak berkepentingan, serta menegaskan pentingnya kembali kepada dawuh poro kyai sepuh sebagai kompas moral dan spiritual dalam mengelola dinamika jam’iyyah.

Dengan pendekatan ini, diharapkan NU tetap kokoh sebagai rumah besar umat, terjaga keutuhannya, dan istiqamah dalam khidmah kepada agama, bangsa, dan kemanusiaan.Sebagai jam’iyyah yang lahir dari rahim pesantren dan diwariskan melalui sanad keilmuan serta keteladanan para muassis, Nahdlatul Ulama memiliki tanggung jawab sejarah untuk senantiasa menjaga keutuhan organisasi, kemurnian niat khidmah, dan keluhuran adab dalam setiap dinamika yang dihadapi.

Oleh karena itu, setiap perbedaan pandangan dan persoalan internal hendaknya disikapi dengan kebijaksanaan, kedewasaan, dan semangat Islah yang berorientasi pada kemaslahatan jam’iyyah, bukan pada kepentingan sesaat.Islah harus dipahami sebagai jalan penyelamatan organisasi, bukan sebagai ancaman terhadap struktur atau kewibawaan kepemimpinan. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, Islah merupakan ikhtiar mulia untuk mengembalikan persoalan kepada musyawarah yang beradab, menjaga ukhuwah nahdliyah, serta mencegah dampak negatif yang dapat merusak tatanan sosial, kultur pesantren, dan kepercayaan warga NU.

Menempatkan kepentingan jam’iyyah di atas kepentingan pribadi maupun kelompok adalah wujud tanggung jawab moral yang tidak dapat ditawar.Para muassis Nahdlatul Ulama telah memberikan teladan dan dawuh yang sangat jelas dalam menyikapi perbedaan dan konflik internal. Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari menegaskan pentingnya adab dan persatuan dengan dawuh:“Persatuan itu tidak akan terwujud kecuali dengan adab, dan adab tidak akan tegak tanpa keikhlasan.

”Dawuh ini menjadi pengingat bahwa kekuatan NU bukan terletak pada kekuasaan struktural, melainkan pada akhlak, keikhlasan, dan persaudaraan.KH. Wahab Chasbullah juga mewanti-wanti agar NU tidak terjebak pada pertentangan kepentingan yang menjauhkan dari tujuan utama jam’iyyah. Beliau menegaskan bahwa:“NU didirikan untuk memperjuangkan kemaslahatan umat, bukan untuk kepentingan golongan atau pribadi.

”Sementara itu, KH. Bisri Syansuri mengajarkan bahwa perbedaan pendapat harus dikelola dengan sikap saling menghormati dan menjunjung tinggi musyawarah, karena perpecahan hanya akan melemahkan umat dan menghilangkan keberkahan perjuangan.Berangkat dari dawuh para muassis tersebut, maka menjadi kewajiban moral dan jam’iyyah bagi seluruh jajaran kepemimpinan dan warga Nahdlatul Ulama, di semua tingkatan, untuk menjaga marwah organisasi, menghormati peran dan nasihat poro kyai sepuh, serta mengedepankan semangat Islah sebagai jalan tengah yang arif dan berkeadilan. AD/ART harus ditempatkan sebagai pedoman organisatoris yang menguatkan persatuan, bukan sebagai alat pembenaran yang berpotensi menimbulkan keretakan.

Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai luhur para muassis, tradisi pesantren, dan prinsip dasar Nahdlatul Ulama, diharapkan seluruh dinamika organisasi dapat diselesaikan secara bermartabat, penuh hikmah, dan berorientasi pada kemaslahatan yang lebih luas. Semoga Nahdlatul Ulama senantiasa terjaga keutuhannya, istiqamah dalam khidmah, serta diberi kekuatan lahir dan batin untuk terus menjadi penopang agama, bangsa, dan negara.

Ayo bergabung menjadi mahasiswa STIDKI NU Indramayu!

Populer