Ditulis oleh: Tim Penulis Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam
STIDKI NU Indramayu.
Dalam upaya membangun generasi muda yang lebih beradab, berempati, dan bebas dari kekerasan sosial, isu literasi gender kembali menjadi sorotan penting di berbagai daerah di Indonesia. Pendidikan tentang kesetaraan gender kini dipandang sebagai kunci utama dalam mencegah praktik perundungan (bullying) yang masih marak terjadi, baik di lingkungan sekolah, komunitas, maupun ruang digital.
Memahami Konsep Dasar Gender Sejak Dini
Para pendidik dan pemerhati anak menegaskan bahwa pemahaman gender bukanlah upaya mengubah identitas seseorang, melainkan memberikan pemahaman bahwa setiap individu—baik laki-laki maupun perempuan—memiliki hak, potensi, dan kesempatan yang sama untuk berkembang. Literasi gender mengajak generasi muda memahami perbedaan antara jenis kelamin biologis dan peran gender sosial, sehingga tidak lagi terjebak pada stereotip yang berujung pada diskriminasi.
Menghubungkan Literasi Gender dengan Fenomena Bullying
Berbagai studi menunjukkan bahwa bullying sering muncul dari ketidaktahuan dan prasangka. Siswa yang dianggap “berbeda”, tidak sesuai standar peran gender tertentu, atau tidak mengikuti norma kelompok, kerap menjadi sasaran. Dengan mengenalkan literasi gender, sekolah dapat membantu siswa memahami bahwa perbedaan bukan alasan untuk merendahkan atau menyakiti orang lain.
“Jika anak-anak belajar menghargai keberagaman sejak awal, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang berani menolak segala bentuk perundungan,” ujar seorang pemerhati pendidikan anak dalam sebuah forum nasional.
Mengembangkan Sikap Anti-Diskriminasi
Literasi gender mendorong siswa untuk mengembangkan sikap aktif dalam menolak diskriminasi. Siswa dibimbing untuk berlatih empati, memahami perspektif orang lain, serta membela teman yang rentan menjadi korban perundungan. Program ini tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga preventif: membentuk karakter yang terbuka, menghargai perbedaan, dan mampu bersikap kritis terhadap perilaku tidak adil.
Membangun Lingkungan Aman & Inklusif
Sekolah, keluarga, dan masyarakat dituntut berperan bersama. Lingkungan yang aman dan inklusif hanya dapat terwujud jika ada kebijakan yang jelas, pengawasan yang kuat, serta budaya saling menghargai. Beberapa lembaga pendidikan mulai menerapkan modul “Generasi Anti-Bullying”, yang mengintegrasikan literasi gender dalam kurikulum penguatan karakter.
Program ini juga mengajak guru, orang tua, dan tokoh masyarakat untuk menjadi teladan. Mereka didorong menghentikan komentar stereotip, mengapresiasi keberagaman bakat siswa, dan menanggapi laporan bullying secara cepat dan profesional.
Harapan bagi Generasi Indonesia
Melalui penguatan literasi gender, Indonesia diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang cerdas secara emosional, empatik, serta mampu menciptakan ruang sosial yang lebih adil. Gerakan ini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan lingkungan belajar yang bebas kekerasan, serta menegaskan komitmen bangsa terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Literasi gender bukan sekadar materi tambahan, tetapi investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi anti-bullying—generasi yang tumbuh dengan kesadaran bahwa setiap manusia berharga, setara, dan layak dihormati.
Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam STIDKI NU Indramayu berkomitmen terus menguatkan literasi sosial dan nilai kesetaraan sebagai bagian dari misi mencetak insan berpendidikan, berbudaya, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.
