Mustasyar dan Sesepuh NU Memanggil”Meneguhkan Keutuhan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama

“Oleh :Supendi Samian Wakil Bendahara PWNU JabarDalam perjalanan panjang Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, suara Mustasyar, para masyayikh, dan sesepuh NU selalu menjadi penuntun moral sekaligus penjaga keseimbangan organisasi. Mereka adalah sanad keilmuan dan ruh spiritual NU yang menjaga agar setiap langkah jam’iyyah tidak keluar dari manhaj Ahlussunnah wal-Jama’ah serta nilai-nilai yang diwariskan para muassis. Ketika para ulama sepuh “memanggil”, sesungguhnya yang berbicara adalah hikmah, kearifan, dan kewibawaan tradisi yang telah terbukti menjaga NU tetap utuh selama hampir satu abad.Di tengah dinamika organisasi, perkembangan sosial-politik, serta tantangan kebangsaan yang semakin kompleks, panggilan para Mustasyar bukan sekadar imbauan biasa. Ia merupakan isyarat kuat bahwa NU harus kembali merapatkan barisan, meneguhkan khittah, dan memastikan jam’iyyah berjalan sesuai prinsip tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal. Keutuhan NU bukan hanya kepentingan struktural, tetapi juga tanggung jawab moral kepada umat, bangsa, dan peradaban Islam Nusantara.

Pesan para sesepuh—khususnya dari lingkungan Pesantren Lirboyo yang sejak awal menjadi benteng pemikiran NU—menegaskan bahwa jam’iyyah harus dikelola dengan adab, musyawarah, serta sikap rujuk kepada yang lebih sepuh. Dalam tradisi pesantren, keberkahan perjalanan kolektif selalu lahir dari ketaatan kepada ulama, kelapangan hati menerima nasihat, serta menjauhi konflik yang dapat menggerus kekompakan.Karena itu, ketika Mustasyar dan masyayikh menyampaikan pesan untuk menjaga keutuhan NU, hal tersebut adalah amar ma’ruf yang wajib diindahkan oleh seluruh tingkatan jam’iyyah. Keutuhan adalah modal dasar keberlanjutan NU sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, penjaga moderasi beragama, dan rumah besar bagi jutaan nahdliyyin.Makna panggilan tersebut, menggali dasar-dasar fikih organisasi, nilai adab kepengurusan, serta relevansinya bagi kondisi NU saat ini

. Semua itu bertujuan meneguhkan kembali bahwa NU hanya akan kuat bila seluruh warganya menyatu dalam ta’dzim kepada ulama, menjaga marwah organisasi, dan mengutamakan maslahat bersama di atas kepentingan pribadi atau kelompok.Pada akhirnya, panggilan para Mustasyar dan sesepuh NU merupakan tanda kasih sayang ulama kepada jam’iyyah dan seluruh nahdliyyin. Mereka tidak bicara atas nama pribadi, tetapi membawa sanad amanah dari para muassis—Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syansuri, KH. Abdul Karim Lirboyo, KH. Mahrus Aly, KH. Arwani , dan para kiai sepuh lainnya—yang sejak awal menegaskan bahwa NU didirikan untuk memelihara agama dan menata kemaslahatan umat dengan penuh adab, musyawarah, dan kesatupaduan.Keutuhan NU adalah amanat besar yang tidak boleh diperselisihkan. Perbedaan pendapat boleh terjadi, tetapi jangan sampai memutus silaturahmi jama’ah atau merusak marwah kepengurusan. Dalam tradisi muassis NU, dinamika organisasi harus selalu diselesaikan dengan ta’dzim kepada ulama, mengikuti prosedur muktamar, dan mengedepankan kemaslahatan jam’iyyah. Hal ini ditegaskan dalam nasihat Hadratussyekh KH.

Hasyim Asy’ari:> “Ittiba’ul aimmati minal ulama najatun minal fitan.”Mengikuti para pemimpin ulama adalah keselamatan dari segala fitnah.Dengan demikian, ketika Mustasyar dan masyayikh pesantren menyerukan agar semua pihak menahan diri, mengutamakan tabayyun, kembali pada aturan organisasi, serta menjaga jam’iyyah, maka panggilan itu memiliki dasar kuat baik secara tradisi maupun fikih.

Rujukan Kaidah Fikih yang Relevan1. تَصَرُّفُ الإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالْمَصْلَحَةِKebijakan pemimpin harus selalu terkait dengan kemaslahatan umat.→ Menegaskan bahwa setiap keputusan dalam NU wajib diarahkan untuk maslahat jama’ah, bukan kepentingan kelompok.2. اَلْحُكْمُ يَدُوْرُ مَعَ المَصْلَحَةِ وُجُودًا وَعَدَمًاHukum organisasi mengikuti maslahat, ada atau tidaknya.→ Konflik internal harus dilihat dari kemaslahatan besar jam’iyyah, bukan emosi atau tekanan situasional.3. دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ المَصَالِحِMenghindarkan kerusakan lebih didahulukan daripada meraih manfaat.→ Perpecahan adalah mafsadah besar; keutuhan NU harus diutamakan.4. اِجْتِمَاعُهُمْ رَحْمَةٌ وَاخْتِلَافُهُمْ عَذَابٌPersatuan membawa rahmat, perpecahan membawa mudarat.→ Pesan penting bahwa kekompakan nahdliyyin adalah rahmat bagi umat.Dengan landasan inilah, seluruh keluarga besar NU diharapkan kembali menata hati, merapatkan shaf, serta menaati nasihat para kiai sepuh

. NU berdiri, tumbuh, dan kuat karena barakah ketaatan kepada ulama. Jika sanad itu diputus, maka kekuatan NU akan melemah.Maka, mendengar panggilan Mustasyar dan sesepuh bukan sekadar etika, tetapi juga tanggung jawab moral dan fikih organisasi. Menjaga keutuhan NU berarti menjaga wasiat muassis, menjaga umat, dan menjaga Indonesia.Semoga Allah senantiasa menjaga Jam’iyyah Nahdlatul Ulama dalam persatuan, kejernihan, dan keberkahan.Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Ayo bergabung menjadi mahasiswa STIDKI NU Indramayu!

Populer