
Ketua STIDKI NU Indramayu :
Dalam kehidupan manusia, “hidup” bukan sekadar bergerak, bernapas, atau menjalani rutinitas harian.
Hidup yang sejati adalah ketika seseorang mampu memberi makna, menghadirkan manfaat, dan menebarkan kebaikan bagi dirinya, keluarga, masyarakat, bahkan lingkungannya.
Dalam khazanah kearifan lokal Jawa, nilai luhur ini dikenal dengan istilah nguripakem.Secara sederhana, nguripakem dapat dimaknai sebagai upaya menghidupkan sesuatu yang bernilai agar terus tumbuh, berkembang, dan memberi manfaat.
Ia bukan hanya konsep bahasa, tetapi sebuah filosofi hidup yang dalam dan menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia. Nguripakem bukan sekadar hidup, melainkan menghidupkan—baik dalam makna spiritual, sosial, budaya, maupun ekonomi.
Dalam perspektif agama, khususnya Islam, konsep nguripakem memiliki keselarasan dengan ajaran tentang pentingnya menjadi manusia yang bermanfaat.
Islam tidak hanya mengajarkan ibadah secara ritual, tetapi juga mendorong umatnya untuk menghidupkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan nyata. Menghidupkan hati dengan iman, menghidupkan lingkungan dengan akhlak, serta menghidupkan masyarakat dengan kepedulian adalah bagian dari esensi ajaran Islam itu sendiri.
Secara sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri. Ia adalah makhluk yang membutuhkan orang lain. Di sinilah nilai nguripakem menjadi penting, karena ia mendorong seseorang untuk tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga berperan aktif dalam menghidupkan, hubungan sosial.
Gotong royong, saling membantu, menjaga silaturahmi, dan peduli terhadap sesama merupakan bentuk nyata dari nguripakem dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam konteks budaya, nguripakem menjadi ruh dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai luhur warisan leluhur. Budaya bukan sekadar tradisi yang diulang, tetapi harus terus “dihidupkan” agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Tanpa semangat nguripakem, budaya akan kehilangan makna dan hanya menjadi simbol tanpa jiwa.Sementara itu, dalam aspek ekonomi, nguripakem mengajarkan bahwa aktivitas ekonomi tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata, tetapi juga pada kebermanfaatan dan keberkahan.
Menghidupkan ekonomi masyarakat, memberdayakan yang lemah, serta menciptakan kesejahteraan bersama merupakan bagian dari implementasi nilai ini.Lebih jauh lagi, dalam konteks syiar agama, nguripakem menjadi fondasi penting dalam menghidupkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat.
Dakwah bukan hanya tentang menyampaikan, tetapi juga tentang menghidupkan—menghidupkan hati yang lalai, menghidupkan semangat ibadah, dan menghidupkan kesadaran akan pentingnya hidup sesuai dengan tuntunan agama.
Dengan demikian, nguripakem bukan sekadar istilah, tetapi sebuah paradigma kehidupan yang mengajarkan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang mampu menjadi sumber kehidupan bagi yang lain. Ia hadir sebagai jembatan antara nilai spiritual dan realitas kehidupan, antara ajaran agama dan praktik sosial, antara tradisi dan modernitas.
Pendahuluan ini menjadi pintu masuk untuk memahami lebih dalam bagaimana konsep nguripakem dapat diterapkan secara nyata dalam berbagai aspek kehidupan, sehingga mampu melahirkan individu dan masyarakat yang tidak hanya “hidup”, tetapi juga menghidupkan.
Pada akhirnya, nguripaken bukan sekadar konsep budaya atau ungkapan kearifan lokal, tetapi ia adalah jalan hidup yang sejalan dengan nilai-nilai agung dalam Islam.
Ia mengajarkan bahwa hidup yang sejati bukan hanya tentang keberadaan diri, melainkan tentang bagaimana kita mampu menghidupkan nilai, memberi manfaat, dan meninggalkan jejak kebaikan.Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an:“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).
”(QS. Az-Zalzalah: 7) Ayat ini memberikan pesan kuat bahwa sekecil apa pun upaya kita dalam “menghidupkan kebaikan” tidak akan sia-sia. Inilah esensi nguripakem: menghidupkan amal, sekecil apa pun, agar bernilai di sisi Allah.Dalam ayat lain, Allah berfirman:“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.
”(QS. Ar-Ra’d: 11) Maknanya, perubahan besar dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya dimulai dari semangat, nguripakem dalam diri individu yaitu kemauan untuk menghidupkan potensi, memperbaiki diri, dan berkontribusi bagi lingkungan.Rasulullah SAW juga bersabda:“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
”Hadis ini menjadi fondasi utama nguripakem dalam Islam, bahwa nilai hidup seseorang diukur dari sejauh mana ia mampu menghidupkan kehidupan orang lain melalui ilmu, bantuan, kepedulian, maupun akhlak.Dalam hadis lain:
“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.
”Ini menunjukkan bahwa nguripakem sejati adalah ketika seseorang mampu menghidupkan amal yang terus hidup walaupun dirinya telah tiada.Dalam karya agung Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa:“Ilmu tanpa amal adalah mati, dan amal tanpa keikhlasan adalah sia-sia.
”Makna ini sangat relevan dengan nguripakem:Ilmu harus “dihidupkan” dengan amalAmal harus “dihidupkan” dengan keikhlasanSehingga hidup manusia menjadi penuh makna.Sementara itu, Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan:
“Jangan menunda amal sampai waktu luang, karena waktu luang itu sendiri belum tentu datang.”Ini adalah panggilan untuk segera menghidupkan kebaikan (nguripakem) dalam setiap kesempatan.
Dikisahkan seorang sahabat Nabi, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dikenal sebagai pribadi yang selalu “menghidupkan” kehidupan orang lain.Setiap pagi, tanpa diketahui banyak orang, beliau :
Mengunjungi rumah seorang wanita tua yang butaMembersihkan rumahnyaMenyiapkan makanan untuknyaSemua dilakukan secara diam-diam, tanpa pamrih.
Ketika Umar bin Khattab mengetahui hal itu setelah wafatnya Abu Bakar, beliau berkata:“Engkau telah melelahkan orang-orang setelahmu, wahai Abu Bakar.
”Kisah ini adalah gambaran nyata nguripakem:Hidup yang menghidupkan orang lain, tanpa mencari pujian.
Nguripaken mengajarkan bahwa:Hidup bukan tentang seberapa lama kita hidupTapi seberapa besar kita memberi kehidupanIa menuntun manusia untuk:
– Menghidupkan iman dalam hati- Menghidupkan kepedulian dalam sosial- Menghidupkan nilai dalam budaya- Menghidupkan keadilan dalam ekonomi- Menghidupkan dakwah dalam kehidupanHidup yang tidak menghidupkan orang lain adalah kehidupan yang hampa.Namun hidup yang mampu menghidupkan kebaikan akan terus hidup, bahkan setelah jasad tiada.
Sebagaimana falsafah luhur:
“Urip iku urup”
(Hidup itu harus menyala dan memberi cahaya)Maka jadilah pribadi yang nguripakem:
Hadir membawa manfaatBergerak membawa perubahanPergi meninggalkan kebaikanSemoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang tidak hanya hidup, tetapi menghidupkan kehidupan.