Setiap kali curah hujan tinggi atau pasang laut mencapai puncaknya, Kabupaten Indramayu kembali menghadapi kenyataan pahit: banjir merendam permukiman, lahan pertanian, hingga kawasan pesisir. Banjir tak lagi sekadar kejadian musiman; bagi masyarakat Indramayu, ia adalah tantangan struktural yang menuntut kebijakan pembangunan infrastruktur yang matang dan berkelanjutan. Data menunjukkan bahwa banjir di Indramayu tidak hanya terjadi satu dua kali, tetapi berulang dengan dampak sosial dan ekonomi yang nyata.
Pada Desember 2024, banjir akibat pasang air laut dan jebolnya tanggul sungai menyebabkan ribuan rumah dan sawah produktif tergenang hingga lebih dari seminggu, dengan ketinggian muka air mencapai ±1,10 meter di beberapa lokasi. Lebih dari 4.300 kepala keluarga terdampak langsung oleh bencana ini, sementara ribuan rumah serta ratusan hektare sawah rusak akibat terendam air. (Antara News)
Melihat kompleksitas ini, pembangunan infrastruktur pengendali banjir seperti normalisasi sungai, perbaikan drainase, dan pembangunan tanggul laut bukan sekadar opsi teknis tetapi kebutuhan strategis.
Normalisasi sungai merupakan upaya teknis untuk memperluas dan memperdalam alur sungai agar mampu menampung debit air besar saat banjir. Di Indramayu, aktivitas normalisasi ini fokus pada muara dan jalur sungai yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi dan sampah laut yang terbawa air pasang.
Pemerintah Kabupaten Indramayu telah memprioritaskan normalisasi muara Tegalagung guna memperlancar arus air dan memudahkan kapal nelayan bersandar sambil mengurangi risiko genangan air yang menimbulkan banjir rob di permukiman pesisir. (Antara News)
Paradigma baru di sini adalah memadukan normalisasi sungai dengan pemeliharaan berkelanjutan bukan proyek sekali berat tetapi proses yang melibatkan pemantauan dan aksi adaptif, termasuk penggunaan kapal keruk untuk mengatasi pendangkalan di 14 muara sungai pesisir Indramayu. Program ini menampilkan pendekatan yang lebih responsif terhadap dinamika alam dan kebutuhan masyarakat pesisir.
(Website Kabupaten Indramayu)
Selain sungai, sistem drainase di kawasan permukiman dan area pertanian memainkan peran penting dalam mencegah banjir lokal. Saluran yang tersumbat atau tidak memadai sering memperparah genangan air ketika hujan lebat turun di wilayah tier rendah seperti Indramayu. Inovasi yang perlu didorong adalah pelibatan masyarakat dalam pemeliharaan drainase secara rutin, serta integrasi saluran dengan taman resapan dan ruang terbuka hijau untuk menambah kapasitas penyerapan air.
Pendekatan ini akan membantu mengurangi tekanan pada sistem drainase saat beban air tinggi, sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan. (Pandangan teknis ini juga tercatat dalam upaya penanganan banjir di daerah lain sebagai langkah penting dalam mitigasi banjir). (dpupr.beraukab.go.id)
Di pesisir Indramayu, banjir rob yakni banjir yang diakibatkan oleh pasang laut tinggi menjadi masalah kronis.
Pemerintah dan BBWS telah melanjutkan pembangunan breakwater atau pemecah gelombang di Kecamatan Kandanghaur untuk melindungi lahan pertanian, permukiman, dan infrastruktur dari serangan air laut yang terus meningkat. (Antara News)
Namun kebaruan yang penting adalah menggabungkan tanggul fisik dengan solusi berbasis alam, seperti rehabilitasi mangrove di zona pesisir yang mampu meredam gelombang sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui peningkatan produktivitas perikanan dan ekowisata suatu pendekatan yang memberikan nilai tambah ganda.
Akumulasi pengalaman banjir di Indramayu menunjukkan bahwa solusi teknis seperti normalisasi sungai, drainase modern, dan tanggul laut penting sekali untuk mengurangi risiko. Namun keberlanjutan jangka panjang baru terwujud bila pendekatan ini dirancang secara sistemik dan kolaboratif, melibatkan pemerintah, ahli sipil dan lingkungan, serta masyarakat lokal.
Di sinilah letak kebaruan strategi: tidak sekadar membangun infrastruktur besar, tetapi memadukannya dengan pengelolaan lingkungan yang adaptif, berbasis data, dan responsif terhadap perubahan iklim. Dengan demikian, Indramayu memiliki potensi untuk tidak hanya mengatasi banjir, tetapi juga menumbuhkan ketahanan sosial-ekonomi yang lebih kuat bagi masa depan. (Penulis Dosen STIDKI NU Indramayu)